Miqat di Bir Ali

Indoberitanew.Sembilan hari sudah jamaah haji gelombang 1 berada di Madinah untuk melaksanakan sholat Arbain (sholat 40 waktu) di Masjid Nabawi, ziarah ke Makam Rasulullah SAW, i’tikaf di Raudhah, ziarah ke pemakaman Baqi, ke masjid quba, ziarah ke syuhada Uhud dan berbagai ibadah lainnya.

Kini saatnya para jamaah mulai bergerak ke Mekkah untuk melaksanakan umroh dan persiapan mengikuti puncak ibadah haji.

Saat kaki mulai melangkah meninggalkan Masjid Nabawi, sungguh hati ini begitu sedih, tak terasa air mata meleleh di pipi karena harus meninggalkan tempat suci ini, harus berpisah dengan Rasulullah SAW.

Meski hanya makamnya saja yang bisa kita ziarahi, tetapi yakinlah bahwa sesungguhnya beliau tidak pernah mati, jasadnya memang telah tiada tetapi ruhnya sedemikian hangat mendekap jiwa….Assalamualaika yaa Rasulallah….terima kasih yaa Rasul engkau telah sudi menerima kehadiran kami, terima kasih ya Allah, Engkau telah memberikan kesempatan kepada kami untuk mengikuti perjalan suci ini.

Selamat tinggal ya Rasulallah….semoga engkau perkenankan kami bisa kembali hadir di sini, lagi, lagi dan lagi…semoga engkau rengkuh kami dalam barisan pengikutmu dan memasukkan kami dalam daftar para penerima syafaatmu.

Untuk melaksanakan ibadah umrah, para jamaah haji harua mengambil miqat di Bir Ali.

Dahulu Bir Ali disebut dengan nama Dzul Hulaifah, namun semenjak Sayidina Ali bin Abi Thalib menggali banyak sumur di lingkungan masjid yang berada di Dzul Hulaifah, maka sejak itu pula tempat miqat Dzul Hulaifah dikenal dengan nama Bir Ali.

Jamaah haji yang menuju ke Bir Ali ada yang terlebih dahulu mandi ihram dari tempatnya masing-masing (dari hotel bagi jamaah bukan penduduk asli), namun ada pula yang memulai mandi dari Masjid Bir Ali lalu shalat sunnah ihram di masjid itu.

Hadits nabi dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma, berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَّتَ ِلأَهْلِ الْمَدِينَةِ ذَا الْحُلَيْفَةِ

Artinya:
Sesungguhnya Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah menentukan miqat bagi penduduk Madinah, yaitu Dzul Hulaifah.

Dua lembar kain putih yang melilit badan, mengingatkan kita bahwa pada saatnya nanti kita akan seperti ini, ketika ajal menjemput dan dimasukkan ke dalam liang lahat, tak ada yang dibawa, tak ada yang dipakai selain kain putih yang melilit badan.

Semua harta, kekayaan, jabatan, gelar, kedudukan, keluarga, teman, sahabat dan semua urusan dunia ditinggalkan….hanya iman, Islam, amal, ibadah dan catatan perilaku keseharain yang menemani.

Labbaikallahumma labbaiik….aku penuhi panggilan-Mu ya Rabb….semoga umrah dan haji yang akan kami lakukan, Engkau terima…sehingga kami berhak menyandang gelar haji mabrur….Aamiin

(red) Sumper Pekeling: Kang Iing

Adm1n

Adm1n

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *