} ?>

Santunan Anak Yatim di Malam 10 Muharram, Wujud Cinta Kepada Sangbaginda Rasulullah SAW

Indoberitanew – Pamekasan.

Air mata haru bercampur senyum merekah di tengah majelis Jam’iyah Sholawat Rosul Hajari malam itu. Dalam momentum 10 Muharram yang dikenal sebagai “Hari Anak Yatim”, Jam’iyah Sholawat Rosul Hajari menyalurkan santunan kepada 25 anak yatim. Meski langit Pamekasan gelap, suasana di dalam Majlis justru terasa terang dengan kehangatan pelukan, lantunan doa, dan kasih sayang yang tulus. Kegiatan dilaksanakan pada Kamis, 25 Juni 2026.

Bagi Jam’iyah, pemberian ini bukan sekadar bantuan materi. namun adalah wujud cinta yang diwariskan Rasulullah SAW kepada seluruh umat-Nya. Program serupa sebenarnya sudah berjalan rutin untuk ketiga kalinya, namun pada tahun ini diselenggarakan tepat pada malam 10 Muharram. Pilihan waktu ini didasari keyakinan bahwa di hari yang mulia itu, setiap kebaikan yang diberikan akan dilipatgandakan menjadi keberkahan yang berlimpah.

Ketua Jam’iyah, Ustaz Ilham Abadi Asaji Algalisi, tampak menahan haru saat menyampaikan sambutannya.

“Kami sangat bersyukur kegiatan ini dapat berjalan lancar. Terima kasih kepada seluruh pengurus, anggota, dan para simpatisan yang telah berjuang di balik layar. Semoga santunan yang sederhana ini menjadi cahaya bagi anak-anak kami, sekaligus menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya bagi para dermawan,” ucapnya dengan suara yang bergetar.

Ustaz Ilham menegaskan bahwa kegiatan ini bukanlah ajang pencitraan diri.

“Ini bukan tempat mencari nama atau pujian, melainkan majelis untuk saling mengingatkan. Pesan kami untuk anak-anak: menjadi yatim bukan berarti putus asa dan kehilangan harapan. Nabi Muhammad SAW pun lahir dalam keadaan yatim, namun beliau menjadi manusia paling mulia di seluruh dunia. Kalian harus tetap semangat bersekolah, rajin mengaji, dan berani bermimpi setinggi langit. Kami semua akan selalu mendoakan dan mendukung kalian,” pesannya.

Salah satu penerima santunan, Muhammad Sahid, bocah berusia 11 tahun dengan tatapan mata yang bersinar, menggenggam erat amplop berisi bantuan tersebut.

“Kami bersyukur masih dipertemukan dengan orang-orang yang memiliki kepedulian. Meskipun ayah sudah tiada, malam ini kami merasa tidak sendirian. Ada bapak-bapak dan ibu-ibu di sini yang terasa seperti pengganti ayah bagi kami,” ucapnya dengan tulus, membuat banyak hadirin terenyuh dan mengusap sudut mata mereka.

Acara ditutup dengan doa bersama. Dua puluh lima pasang tangan kecil terangkat, mengaminkan setiap permohonan yang dipanjatkan. Di luar aula, malam Pamekasan terasa lebih hangat. Di sanalah iman dan kasih sayang bertemu, mengingatkan kita bahwa sebaik-baik manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi sesama.

(Mhdr)

Adm1n

Adm1n

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *