Indoberitanew.com – SURABAYA – Aksi Jilid I Forum NGO Pamekasan di Kantor Wilayah Bea Cukai Jatim I Surabaya, Kamis 29 Oktober 2026, berakhir panas.
Massa yang datang dari Madura kecewa berat karena Kepala Kanwil tidak mau menemui mereka. Sebagai bentuk protes, massa yang dipimpin korlap Very Pocong langsung membakar baju di depan gerbang kantor.
Aksi bakar baju itu jadi simbol matinya keadilan. Mereka menilai Bea Cukai tutup mata terhadap maraknya rokok ilegal di Pamekasan.

Awalnya aksi berjalan damai. Sekitar 200 orang dari Madura itu datang membawa 14 tuntutan agar Bea Cukai memeriksa para owner PR yang diduga memproduksi rokok ilegal.
Namun setelah hampir satu jam orasi bergantian, pihak Kanwil Jatim I tidak menemui massa secara terbuka. Yang menemui hanya perwakilan staf biasa.
Karena merasa disepelekan, Very Pocong langsung naik pitam dari atas mobil komando.
“Kami jauh-jauh dari Madura, tapi kami disepelekan! Kalau Bea Cukai tidak berani membakar mesin rokok ilegal, biar kami yang bakar baju kami sendiri sebagai simbol matinya keadilan!” teriaknya, disambut teriakan massa.
Tak lama, salah satu aktivis melepas baju seragam, menyiram bensin dan membakarnya di tengah jalan. Aparat yang berjaga sempat kaget dan bergegas memadamkan api.
Asap hitam pekat langsung membumbung di depan Kantor Kanwil yang bertuliskan KEMENTERIAN KEUANGAN RI – DITJEN BEA DAN CUKAI – KANWIL DJBC JATIM I. Aksi itu pun jadi tontonan pengguna jalan dan wartawan.

Menurut Forum NGO, ini baru peringatan awal.
“Hari ini yang kami bakar baru baju. Di aksi Jilid II nanti kami akan bawa mesin rokok ilegal itu ke sini dan kami bakar di depan kantor ini. Lawan kezaliman, bersatu kita kuat!” lanjut orasi.
Massa menegaskan tetap menuntut agar semua mesin rokok ilegal di Pamekasan dihabisi karena merugikan negara.
Mereka juga mendesak Bea Cukai memeriksa 14 nama yang diduga sebagai pemilik PR di Pamekasan dan Sumenep, mulai dari HS Djaya Abadi, PR Classy, PR Paku Alam, hingga PR Angkasa Bumi 7.
Usai aksi bakar baju, api berhasil dipadamkan dan massa bubar tertib. Mereka mengancam akan kembali dengan 500 orang di Aksi Jilid II jika tuntutan tidak direalisasikan. (Mdr.)